Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Inilah Alasan Mengapa Menonton Vidio TikTok Dapat Merusak Fungsi Otak


Prospective memory adalah kemampuan untuk mengingat dan melaksanakan tindakan di masa depan, seperti mengingat untuk minum obat atau menghadiri rapat yang telah di jadwalkan. Kemampuan ini sangat penting dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Namun, kebiasaan baru di era digital, seperti menonton video pendek di TikTok atupun Instagram Reels, dapat memengaruhi kemampuan ini. Konten yang cepat dan intens sering kali membuat perhatian terfragmentasi, mengurangi kemampuan untuk fokus pada tugas jangka panjang.


Video pendek dapat mengganggu pembentukan ingatan jangka panjang karena membutuhkan perhatian penuh untuk membangun hubungan yang kuat di otak. Ketika seseorang terganggu oleh konten yang terus-menerus berganti, otak tidak memiliki waktu untuk menyimpan informasi dengan efektif. Akibatnya, kebiasaan ini tidak hanya merusak perhatian, tetapi juga menurunkan kemampuan untuk mengingat tugas-tugas penting. Secara umum Prospective memory dibedakan menjadi dua.

1. Time-Based Prospective Memory



Time-based prospective memory adalah kemampuan untuk mengingat melakukan suatu tugas pada waktu tertentu. Contoh dari ini adalah mengingat untuk menghadiri pertemuan Zoom pada pukul 10:00 pagi atau mematikan oven setelah 30 menit. Kemampuan ini sangat bergantung pada pengelolaan waktu dan sering kali memerlukan alat bantu, seperti alarm atau pengingat di ponsel, untuk memastikan tugas tersebut dilakukan tepat waktu. Namun, gangguan dalam perhatian, seperti kecanduan menonton video pendek, dapat membuat seseorang lupa akan tugas berbasis waktu ini karena perhatian mereka teralihkan oleh hiburan instan.


2. Event-Based Prospective Memory



Event-based prospective memory, di sisi lain, adalah kemampuan untuk mengingat melakukan sesuatu ketika suatu peristiwa tertentu terjadi. Sebagai contoh, mengingat untuk memberikan dokumen kepada seorang rekan kerja ketika Anda bertemu dengannya, atau mengingat untuk membeli susu ketika Anda melihat toko kelontong. Prospective memory berbasis peristiwa cenderung lebih mudah dikelola dibandingkan berbasis waktu karena sering kali terdapat isyarat visual atau lingkungan yang membantu memicu ingatan.



Sebagai contoh dalam sebuah studi di Jerman, para peserta diminta mengerjakan dua tugas berikut:

  • Mereka diberikan beberapa kata dan harus menentukan apakah kata-kata tersebut benar-benar ada dalam kamus bahasa Jerman atau hanya kata-kata buatan yang tidak memiliki arti. Untuk menjawab, mereka menekan tombol "N" jika kata tersebut ada di kamus, dan tombol "M" jika kata tersebut adalah kata yang dibuat-buat.

  • Mereka juga diberikan tugas untuk mengingat kata-kata tertentu yang muncul di layar komputer.

Setelah menyelesaikan setengah dari tugas, peserta diberikan waktu istirahat selama 10 menit. Dalam waktu istirahat ini, mereka diminta melakukan salah satu dari empat aktivitas: istirahat total, menggunakan TikTok, menonton YouTube, atau scrolling Twitter.


Hasilnya?

Peserta yang menggunakan TikTok mengalami penurunan kemampuan memori prospektif (prospective memory) secara signifikan. Mereka lebih sering melupakan kata-kata yang harus diingat dan melakukan lebih banyak kesalahan saat menekan tombol dalam tugas pertama. Dengan kata lain, setelah menggunakan TikTok, daya ingat mereka menurun.Sebaliknya, peserta yang menonton YouTube atau menggunakan Twitter tidak menunjukkan penurunan daya ingat yang signifikan.


Mengapa hal ini terjadi?

Menurut tim peneliti, penyebab utamanya adalah durasi pendek konten TikTok. Karena video TikTok cenderung berdurasi singkat, otak pengguna dipaksa untuk beradaptasi dengan pergantian informasi yang sangat cepat. Setiap video menghadirkan cerita, visual, dan konteks baru dalam hitungan detik. Hal ini membuat otak terus-menerus "melompat" dari satu fokus ke fokus berikutnya tanpa cukup waktu untuk memproses informasi secara mendalam.


Kombinasi antara durasi pendek dan pergantian konten yang cepat ini membuat otak kelelahan, sehingga kemampuannya untuk mempertahankan ingatan jangka pendek berkurang. Berbeda dengan TikTok, konten YouTube biasanya berdurasi lebih panjang (kecuali Shorts), sehingga pengguna tidak mengalami pergantian konteks yang terlalu intens dan cepat seperti di TikTok.


Apa yang terjadi jika memori prospektif melemah?

Ketika prospective memory melemah, kemampuan kita untuk mengingat tugas atau kegiatan yang harus dilakukan akan menurun. Akibatnya, kita dapat melupakan hal-hal penting seperti mengumpulkan laporan, mengerjakan pekerjaan rumah, atau menyelesaikan tugas harian.



Kesimpulan


Prospective memory, baik yang berbasis waktu maupun peristiwa, memainkan peran penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, kebiasaan menonton video pendek yang serba cepat dapat mengganggu kemampuan ini dengan mengurangi perhatian dan kapasitas otak untuk memproses informasi secara mendalam. Untuk melindungi dan meningkatkan kemampuan prospective memory, penting bagi kita untuk membatasi gangguan digital dan mengembangkan kebiasaan yang mendukung pengelolaan waktu serta perhatian secara efektif.

Post a Comment

0 Comments